Sebelumnya saya minta maaf…. ^^
saya tidak mampu membalas koment karena… saya bingung mau jawab apa.. *gak jelas*
ya memang jujur aku bingung mau jawab apa atas kebingungan ku.. *tambah gak jelas*
hahahahaahhahaaa…. *orang aneh*
oke… ini silahkan…..
ding doong….. let’s cekidot!! >>
PART 5
Yuri POV
Waktunya menjenguk..
“Yoona sakit apa??”
“ah.. kata dokter Anemia..”
“anemia?”
“iya dia sering lelah.. dan kadang sering pingsan..” jelasku
“salam ya untuknya.”
“oke..aku pergi kak.”
Kali ini aku pergi membawa mobil.. aku berhenti disebuah toko bunga.. toko bunga dimana aku peernah bekerja.. tapi aku keluar karena aku dimarahi oleh kakakku yang super bawel itu..
“Haii!! Sudah lama tak kesini kau Kwon Yul?!” sapa rekan Kerjaku
“iya.. kau makin sukses aja dengan usahamu Taeng.”
“hohohohooo.. ini demi anak” Tunjuk Taeng mengarah ke anaknya yang imut.. *sorry terpaksa menjadikan Taeng emak2 ^^*
“ajumma..” teiak anak itu padaku
“hahhaaaa… halo sunkyu.. apa kabar?? Aku menggendongnnya.. *dan Sunny menjadi anaknya.. =.=a*
“ajumma.. kenapa tak pernah kesini lagi??”
“aku terlalu sibuk..” elusku
“aku mau beli bunga Taeng”
“waaw.. buat siapa??”
“temanku ada yang masuk rumah sakit.”
“nihh.. gratis buatmu.. sampaikan salamku pada temanmu ya.. semoga lekas sembuh.”
“wahh.. terima kasih.. dada SunKyu.. besok aku main lagii..”
“dadadada…”
Tunggu aku dewi hujanku..
Aku masuk ke mobil dan bergegas menuju rumah sakit..
“Haii… aku kembali..” Aku muncul dari balik pintu.. dia tersenyumm.. senyum itu.. indah sekali..
“Apa yang kau sembunyikan??”
“untukmu.” Aku mencium kening Yoona, aku memasang bunga itu di vas yang kosong..
“Lihat lah yoona..” Aku meletakkan bunga itu di jendela dan terkena sinar matahari..
Dia berusaha bangun dari tempat tidurnya dan menghampiriku.
“ada apa??” dia memelukku hangat..
“warna bunga ini adalah warna sunset..” jelasku
“lalu??” tanya Yoona heran
Aku mengambil semprotan bunga.. dan menyemprotnya pelan
*jangan tanya Yuri dapet semprotan itu dari mana #plak!! Diam kau El.. laagi asiikkk neh!!*
“wuaaahh…” Yona terkesima..
“Semprotan ini menghasilkan pelangi kan?? Seperti sunset, hujan dan pelangi bergabung menjadi satu.” Jelasku
“chagii…” peluknya semakin erat
“nanti jika kau sembuh.. kita akan ke paradise island itu..” Ungkapku
“hheehem” angguknya..
“sekarang tidurlah..” perintahku dan menuntunnya ke tempat tidur..
Yoona masih saja memandangiku, mataku memang ngantuk sekali..
“Chagi.. pulanglah..”
“ah? Tak mau!!” Sahutku
“jika kau tak pulang! Aku tidak bisa tidur nyenyak!” Marah Yoona
Aku memanyunkan bibirku.. “tapi aku masih ingin disini.”
“kau lelah kan??”
“haaah… yasudah.” Desahku pelan dan menghampirinya..
“Aku pulang ya..” pamitku lalu mencium keningnya..
Aku keluar ruangan dan menuruni tangga..
“maaf.. apakah ruang 4-0-1 masih atas nama pasien Choi Soo Young yang terkena Usus Buntu??” tanya seseorang ke receptionis..
4-0-1?? Bukankah itu ruangan Yoona?? Aku heran atas pertanyaan laki – laki itu..
“oh.. maaf tuan.. ruang 4-0-1 bukan atas nama Choi SooYoung yang menderita usus buntu.. melainkan Im YoonA pasien Leukimia.” Jelas Si receptionist
Dekk…
Akku berhenti mencoba memastikan apa yang aku dengar.. “Leukimia?? Yoona??”
Aku berjalan lemas ke arah receptionist..
“Permisi?? Apakah Yoona pasien Leukimia?” tanyaku datar
“iya ada apa?? Dia berada di ruang 4-0-1.”
“ee…terima kasih.” Jawabku masih dengan perasaan tak percaya.. Pikiranku jadi kosong…
Aku berjalan gontai keluar dari rumah sakit, Aku terduduk di bangku taman rumah sakit.. Aku memandang kosong ke depan…
“jadi dia bukan Anemia?? Melainkan Leukimia??” Ungkapku
Tak kurasa air mataku menetes.. Leukimia?? Kenapa saat itu dokter bilang penyakitnya Anemia?? Membohongiku?? Buat Apa??
Yoona POV
“Yuri, apakah aku masih bisa bertahan lama?? Kenapa aku baru menemukan sosok sepertimu saat penyakitku semakin parah?” Gumanku menatap bunga pemberian Yuri..
“ingin sekali aku terus bersamamu..” Aku meneteskan mataku..
Yuri POV
“Tidak Yoona!! Tidak!!” Aku berlari keruangannya.. Aku buka keras pintunya hingga dia terkejut melihatku..
menangis?? Dia menangis.. Dia cepat – cepat menghapus air matannya..
“Yuri?? Ada apa??” tanyannya dengan senyum terpaksa
Aku masih menatapnya..
“Yoona,,” aku langsung memeluknya erat..
“Ada apa chagi??” Dia bingung.. Aku menatapnya.. dengan air mata tertahan.. aku pandang tiap sudut wajahnnya..
“kenapa kau berbohong padaku?! Kenapa??”
“Yuriii?? Kkaauu? Maksudmu??”
“kenapa kau menyembunyikannya?? aku sudah tahu… dan sangat menyakitkan untukku.. kenapa kau tak pernah menceritakan sesungguhnya??” Aku meneteskan air mata.. Dia mengusap pipiku..
“karena aku tak ingin kau bersedih.” Jawabnya
“kenapa dokter itu membohongiku??”
“aku yang menyuruhnya Yul..”
“KENAPA KAU TAK INGIN AKU TAHU HAH!!” Aku berdiri dan marah kearahnnya.. dia hanya tertunduk..
“maaf.. maaf.. Yull..”
Aku berdiri dan menatap keluar jendela…
“Yull… Yull maaf… sungguh maaf..” Aku menegok kearahnya, dia menatapku dengan air mata yang mengalir.. Aku menghampirinya dan memelukknya.. sangat erat..
“Aku sayang kau.. sangat.. sangat sayang..” Jelasku..
“Aku akan semakin merasa sakit jika kau menyembunyikannya dari ku”
Aku menghapus air mataku.. aku tak ingin menambah kesedihan ini.. Aku coba tersenyum..
“Kenapa tak dimakan?” tanyaku menunjuk ke makanan yang belum dimakannya..
Dia hanya menggelengkan kepalannya..
“aku suapi??” tawarku tersenyum..
Dia mengangguk pelan sambil meraih tanganku dan meletakkannya dipipinya..
“tangan hangat yang sangat aku rindukan..”
“tangan hangat ini akan selalu bersamamu..” jelasku tersenyum..
Suster memasuki ruangan..
“Nona Yoona, waktunya anda cek up.”
“Ayo aku antar.” Aku menuntunnya duduk di kursi roda
“Anda tunggu disini saja.” Ucap suster itu
“emm baiklah.. chagi!! Semangat!”
Yoona tersenyum dibalik wajah pucatnya, aku sangat sedih melihat keadaanya.. hatiku terasa sakit sekali.. Aku berjalan dan duduk diruang tunggu.. aku menyandarkan kepalaku di dinding..
“noona, bisa kita bicara sebentar??”
“Ahh… onew ada apa??”
Onew mengajaku keluar dari rumah sakit dan duduk di taman rumah sakit..
“Akhirnya kau pun tahu” datarnya
Aku menatapnya bingung.. Tiba –tiba dia menangis..
“kenapa menangis??” bingungku
“Noona ku mohon.. kumohon buat noonaku bahagia sebelum dia pergi.”
“maksudmu..”
“Ini sangat menyakitkanku.. kenapa harus noona Yoona?? KENAPA!!” Teriaknya
“Onew!”
“Dokter itu berkata waktu dia tak banyak!! Apa maksudnya??” Dia menghapus air matanya
“jadi ku mohon tolong buat dia bahagia. Aku tahu dia sangat mencintaimu.”
“Onew”
“Jika kau tak membuatnya bahagia disaat terakhir dia!! Aku Im Jin Ki orang pertama yang akan membunuhmu!!”
“Ya.. aku berjanji!!” datar ku tak kuasa menahan air mata..
Setelah Onew pergi meninggalkanku.. aku hanya duduk terdiam.. kubiarkan air mata ini mengalir..
Hujan pun turun dengan derasnya di langit sore ini….
—
Ting…tong..ting…toong…
“ya.. sebentar..siapa??”
Jessica membukakan pintu dan kaget melihat adiknya basah kuyup dan terlihat pucat sekali..
“kakak…” Yuri jatuh dipelukan Jessica
“Yuuu..yyuulll!!!” Jessica kaget saat adiknya jatuh di pundaknya, dia membawa masuk dan mendudukannya di sofa..
Jessica datang mengambil handuk.. lalu kembali lagi mengambil air hangat..
“ada apa?? Kau kenapa!!” marah Jessica penuh kawatir..
Yuri terduduk lemas, Jessica menghandukinya dan mengganti pakainnya.. Yuri menangis..
“Yull…” Jessica memeluk adiknya..”katakan padaku ada apa?adakah yang menyakitimu??”
Yuri menggelengkan kepalanya.. Yuri menghela nafas panjang dan berdiri.. “aku ingin sendiri..” Lalu dia berjalan gontai ke kamarnya..
Jessica menatap sendu ke adiknya..
“aku tak sanggup melihatnya seperti ini? Ku mohon jangan buat hati adikku terluka lagi.” Air mata itu mengalir di wajah Jessica
Yuri POV
From : Yoona
Kau tadi kemana?? Ketika aku selesai check up kau tidak ada? T.T
To : Yoona
^^* maaf chagi tadi aku dicari oleh kakak, kau pasti tahu kan jika aku tidak menuruti perintahnya, nyawa kekasih tercintamu pasti terancam
From : Yoon
Aku bosan dirumah sakit.. bawa aku pergi..
To : Yoona
Chagi kau sedang sakit, janganlah keluar..
From : yoona
Jika kau tidak kesini dalam waktu 20 menit.. kau akan tanggung sendiri akibatnya Kwon Yuri!
“Haaahh??” Membaca pesan terakhir dari Yoona membuatku kalang kabut..
Aku segera berganti pakaiann dan mengambil kunci mobilku.. seperti orang kesetanan aku keluar dari kamar, aku melihat Jessica sedang di ruang makan menatap kaget kearahku..
“Yuulll!!!..” teriaknya
Aku berhenti dan menatapnya, dia tadi sempat khawatir kepadaku,, jika ini seperti hari biasanya aku sudah mengabaikannya… melihat aku merespon dia menghampiriku..
“apa yang terjadi??”
“apa?? Tidak ada kok kak.”
“jangan mencoba membohongi aku.”
“iya baik… maaf membuat kau kawatir.. aku hanya merasa sedih Yoona tak juga sembuh,,. Kan aku kangen jalan bareng sama dia.” Senyumku padanya
“Yoona belum sembuh?? Dari anemia itu??”
Aku mengangguk..
“sekarang kau mau kesana??”
“iyaaa..” jawabku seraya memakai sepatu
“nanti setelah Tiffany pulang, aku akan menengoknya.”
“iya, aku pergi kak.” Jawabku menutup pintu
Sesampainya di rumah sakit Yuri langsung berlari menuju ruanan Yoona.. dia membuka pintu kamar dengan kelelahan…
“Chagi… haaah…haaaah….haaaaahh.. aku ddaat…” Ujar Yuri ditengah sengal kelelahannya
Dia terpaku melihat Yoona tidak ada di ranjang, hanya ibunya yang menangis di ranjang.. saat dia masuk ibu Yoona menatap sendu… dia keluar.. Yuri masih terpaku melihat kearah ranjang..
“Yoona..” datarnya
-TBC-
Maaf… memberi penyakit ke yoona di ff ini.. T.T
sebaiknya saya KABURR >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>…..
No comments:
Post a Comment