Friday, March 21, 2014

May Be Right I love Her part 18

Padahal belum buat ff kelanjutan soosun yang bakal *** tapi peminatnya banyak banget yang mail ke e-mail ku… hahahahahaa…
jadi post taeny dolo lah.. yang makin lama makin suram aja hubungannya…
maaf… maaf.. tapi cinta sejati tu cobaanya banyaakk… *alibi*
lanjuut!!
PART 18

“kau masih mencintainya kan?!”
Tiffany memikirkan kata2 dari Yuri.. Dia termenung berayunan di taman bermain dekat rumahnya sendirian..
“sampai sekarang aku masih sangat mencintainya… tapi aku harus bertahan, aku senang melihatnya menjadi orang sukses..” Dia menyandarkan kepalanya di besi ayunan seraya menatip langit yang hitam..
Dia mengingat kejadian saat pertama dia jatuh hati pada tae yeon.. di tempat ini juga.. Saat mereka bermain cangkir putar bersama, saat dia melihat sisi tae yeon yang berbeda.. saat tae yeon bersandar padanya, saat tae yeon bersedih.. hal itu membuat rasa sedikit sakit pada hati Tiffany..
Saat dia mengejek Tiffany sebagai gadis kereta yang aneh.. Tak terasa air matanya menetes mengingat itu..
“Orang jutek, kau pasti membenciku..” seguknya..


Sedangkan di tempat lain… seseorang sedang duduk di bawah shower..
“Kenapa aku terus mengingatnya?? Mengapa dia tak bisa hilang dari kepalaku?!!” Marahnya meninju diding kamar mandi menyebabkan tangannya terluka dan berdarah…
Melihat luka itu membuat Tae yeon mengingat saat Tiffany mengobati lukanya akibat berkelahi dengan preman yang menyerang kedai paman Min..
“kenapa aku masih memikirkanmu?! PERGI DARI PIKIRANKU! ENYAHLAH KAU DARI OTAKKU HWANG MIYOUNG!!!” geramnya mencengkram kepalanya seraya berteriak keras..


“Appa.. aku membawa calon menantumu..” ujar Yuri kepada ayahnya yang sedang tertidur..
“apa keadaanya sudah membaik??”
“Setidaknya ayah sudah bisa merespon pembicaraan, dokter terus menyuruhku untuk berkomunikasi dengannya karena otaknya mulai merespon..”
Setelah menengok keadaan ayah Yuri mereka duduk berdua diruang santai,,
“bagaimana keadaan Di korea??”
“Adikku semakin menyedihkan.. ibu semakin kejam.. Taeng jadi lebih dingin terlebih karena dia putus sama Tiffany..” jelas Yuri sedih..
Jessica menghela nafas… “Yul, kau perlu tahu sesuatu..” ujar Jessica.. Yuri menengok kearah Jessica.. “apa??”
“Tiffany dan Tae Yeon…. mereka putus karena……” Jessica menceritakan beberapa hal yang membuat Tae Ny putus..
“APA?!! JADI…..” kaget Yuri.. Jessica mengangguk dengan air mata yang berlinang..
“Ibu….??” geram Yuri dengan air mata yang menetes..


“Tae Yeon~ssi!! Anda mau kemana malam2 seperti ini??” cegah pengawal ibu tae yeon..
“Aku ada sedikit urusan..”jawabnya singkat dan masuk kedalam mobilnya..
Sepanjang perjalanan.. Tae Yeon mengemudi dengan kecepatan sedang… pikirannya berkecamuk mengingat saat dia melihat Tiffany dan Yuri di taman itu.. perasaan sakit yang masih jelas dirasanya..
Tangannya merespon memasukkan gigi 5 dan mengencangkan laju mobilnya…
Tiba2 ada mobil yang berhenti tiba2 karena menghindar dari mobil lain yang menyalip berbeda arah..
Tabrakan tak bisa di hentikan.. mobil yang di kendarai Tae Yeon menabrak bagian belakang mobil itu dan mengakibatkan mobilnya meluncur terbalik…
PRANGGG……. Tiffany kaget saat mencoba menuang air minum di gelas, gelasnya terjatuh dan pecahannya mengenai jari telunjuknya saat Tiffany mencoba memungutnya…
“Ya Tuhan.. firasat apa ini??” gumannya mengemut jarinya..

Tae Yeon segera dilarikan ke rumah sakit.. dia mengalami pendarahan banyak…
Ibu Tae Yeon segera berlari menuju ruang UGD.. dia berdiri kaku tak bergerak sedikitpun.. setidaknya jiwa keibuan Tae Yeon terlihat jelas disini..
2jam berlalu…
“Bagaimana keadaanya?? Bagaimana keadaan anak saya?!!” tanya Ibu Tae Yeon gugup..
“anak anda belum sadarkan diri, namun dia berhasil melewati masa krisis..”
“Aku akan beri apapun asalkan selamatkan nyawa anakku..”
“Baik nyonya..” patuh dokter itu..

Ibu Tae Yeon terus berdiri di depan ruangannya, selang beberapa saat seorang wanita berlari terburu – buru… wanita itu berhenti saat melihat ibu Tae yeon berdiri di depan..
“Hee Rim??” guman ibu tae yeon pelan
Wanita yang bernama Hee Rim itu hanya menatap Ibu TaeYeon dengan tatapan marah..
“bagaimana keadaanya??” tanyanya dingin
“kritis..” jawab ibu taeyeon singkat..
“apa kini kau sadar betapa berharganya anakmu??” tanyanya sengit
Ibu Tae yeon hanya terdiam..
“kau terlalu egois unnie..” geramnya duduk di kursi yang disediakan.. Matanya kini tertuju pada ibu tae yeon yang berdiri di dekatnya..
“terbuat dari apa hatimu? Menjadikan anak – anakmu seperti robot, membiarkan mereka jadi manusia yang hidup tanpa cinta.. seharusnya kau tahu dan sadar itu unnie!!”
“Diam hee rim.. diam.. jangan banyak bicara!” ketus ibu tae yeon
“heh.. tak juga sadar..” geramnya lagi melihat tingkah ibu tae yeon
“apa sekarang kau tahu kabar kakakku?” tanyanya
“………………”
“Apa kau tahu sedang apa yuri dan suamimu disana?? Apa kau tahu apa yang membuat seorang tae yeon pengemudi handal kecelakaan??”
“diaammm! Hee rim! Jangan urusi keluargaku!”
“keluargamu??” tanyanya dengan nada sinis..
“apa kau pernah tahu apa yang disukai anak – anakmu? Makanan apa yang disukai Yuri, hal apa yang disukai tae yeon, mengapa dia keras dengan aturanmu? Apa kau tahu?!!!” bentak hee rim yang adalah bibi Yuri dan Tae Yeon “kau workaholic yang mengerikan unnie..”
“DIAAM!!” Ibu Yuri mengangkat tangannya hendak memukul wajah Hee Rim..
“jangan nyonya.. jangan sakiti bibi..” ujar seorang gadis menahan tangan ibu Tae Yeon, pandangan ibu tae yeon kini kearah gadis yang menahan tangannya..
“Kau??!”
“Tiffany…” Ujar bibi tae yeon kaget melihat Tiffany..
“aku mendengar dari jinki jika bibi kerumah sakit karena tae yeon kecelakaan.” Ujar Tiffany..
Ibu Tae Yeon menarik kembali tangannya.. dan menatap jengkel kearah mereka berdua..
Nyonya Kwon kini beranjak pergi dari mereka.. dia berjalan pelan..
“Nyonya…” panggil manajernya..
Nyonya kwon hanya mengangkat tangan kanannya pertanda ia tak apa – apa.. Dia duduk di kursi..
“Ahh…” Kaget manajer ahn melihat kedatangan seorang gadis..
Mendapat isyarat dari nyonya kwon manajer Ahn pamit dari hadapannya..
“Tae yeon sangat suka dengan mie dingin, terutama yang di jual di tempat kerjanya namyeong min, jika dalam keadaan lapar, dia bisa menghabiskan sampai 3 porsi besar.. selain itu dia sangat suka es krim kecuali rasa strawberry karena asam.. Tae Yeon sangat suka pergi ketaman bermain, itu adalah tempat dimana aku bisa melihatnya tertawa lepas.. dia sangat menyukai bunga karena bunga adalah sesuatu yang cantik yang patut di kagumi.. meski dia dingin, tae yeon sangat hangat.. dia sangat sayang dengan kakakknya.. Yuri Unnie.. meski dia tak sepenuhnya bisa mengutarakan rasa sayangnya…” jelas Tiffany yang duduk jarak semeter dengan nyonya kwon..
Nyonya Kwon terdiam mengangkat tasnya yang tadi terjatuh ke pangkuannya..
“Bahkan jika dia sudah menyanyangi orang terdekatnya, dia rela melakukan apapun untuk melindunginya.. apapun taruhannya.. meski dia harus kelilangan kaki atau tangannya..”
Nyonya Kwon menghela nafas dan berdiri..
“Nyonyaa..” panggil Tiffany lembut
Nyonya Kwon berhenti sejenak.. namun kembali berjalan diringi bungkukan dari manajernya..
Tiffany tersenyum saat manajernya memberi salam padanya..


Ini sudah menjadi hari ke 30 ketidak sadaran Tae Yeon.. Semua temannya khawatir dengan keadaan Tae yeon, terutama rekan kerjanya di kedai namyeong Min.. mereka sering mengunjungi Tae Yeon untuk menenogknya.. terutama Tiffany.. bahkan secara diam – diam, Tiffanylah orang yang menggantikan bunga di meja Tae yeon..
“Kau belum sadar juga orang jutek??” tanya Tiffany yang berdiri di dekat meja..
“Maaf, pasti jika kau sadar kau akan sangat tak menyukaiku ada disini.. maaf.. tapi sebagian hatiku ingin sekali melihat keadaanmu.. meski dokter sangat pesimis.. tapi aku yakin aku akan melihat kejutekanmu lagi.. cepat sembuh, aku akan traktir namyeong sesukamu..” jelas Tiffany tersenyum.. dia berjalan kearah sofa mengambil tasnya dan berniat pergi.. namun ia berhenti saat melihat seseorang sudah berdiri di pintu..
“Nyonya..” bungkuknya..
Ibu Tae Yeon melangkah masuk.. dan berhenti tepat disampingnya..
“terima kasih..” ucap ibu taeyeon membuat Tiffany menengok kearahnya dengan tatapan heran..
“terima kasih sudah memberikan itu..” ujarnya menunjuk kearah bunga di meja deket jendela..
“aku tidak tahu bunga apa yang disukainya.. terima kasih sudah membawakannya untuk taeng.”
Tiffany tertegun.. “aah.. nn..nnee…” bungkuknya dan permisi keluar..

Ibu Tae Yeon menarik kursi mendekat ke ranjang yang ditiduri tae yeon.. dia menatap wajah anaknya..
“apa selama ini kau tersiksa dengan peraturanku?? Aku ibu yang payah, benar kata bibimu.. aku workaholic yang mengerikan.. bagaimana keadaan mu sekarang taeng?” Ibu Taeyeon menggenggam tangan tae yeon.. -Kayaknya dah insaf neh nyonya.. aku lihat matanya meneteskan air mata neh-
“aku memang ibu yang mengerikan… karena ku aku melepas ikatan hati antaramu dan gadis tadi.. begitu kau sangat mencintainya.. aku jahat sekali.. maafkan ibu nak..” Ibu tae yeon meraih tangan anaknya dan mencium tangan tae yeon seraya menangis..
Perlahat gerakan kecil dirasakan ibu tae yeon ditangannya,. Dia terkejut dan menatap tangan tae yeon di tangannya.. jari – jari manis tae yeon bergerak perlahan..
“DOKTER!! DOKTER!!” Teriak Ibu Tae yeon..

Beberapa dokter berlari kearah ruangan Tae yeon… Ibu tae yeon segera di giring keluar dari ruangan, sementara diluar beberapa menit kemudian Yuri, Jessica dan Hee Rim berlari..
“Ibu, bagaimana taeng??”
Ibu Tae yeon masih menyisakan air matanya..
“Unnie! Apa yang terjadi padanya?!” tanya hee rim khawatir..
“dia.. tangannya bergerak.. tangannya bergerak..” datarnya..
“SUNGGUH!!” Kor Yuri, Jessica dan Hee rim.

Ruangan yang sangat putih…
“Tae Yeon…Tae Yeon..bangun nak…”
“Eh…eh…kenapa semua putih? Mataku silau..”
Seseorang tersenyum kearahnya..
“Appa….” Kaget Tae Yeon
“Hai anakku..”
“kenapa Appa bisa ada disini?”
“seharusnya aku yang bertanya padamu..”
Tae Yeon terdiam.. “apa aku mati??!!” kagetnya.. “lalu Appa?”
Ayah TaeYeon hanya tertawa kecil.. “kau masih sama seperti anakku dulu, menggemaskan dan ceria, tapi apa yang terjadi padamu sekarang ini??”
“Maksud appa??”
“Kenapa kau seperti lemari besi? Dingin dan sudah terbuka? Sepertinya anakku tak seperti itu dulu..”
“Em…”
“Sebaiknya kau pulang..”
“Appa??”
“Kau harus pulang nak, hidup bahagia nak.. sampaikan salamku pada Ummamu dan unniemu” Appa Taeng mendorong pelan tubuh anaknya kearah lubang cahaya.. “APPA!” Ayah tae yeon hanya memberi senyum..

“Dok, pasien membuka matanya dok..”
“Tae Yeon.. Tae Yeon…”
Perlahan mata sipit tae yeon bergerak dan berkedip..
“Ini aku… ini unnie Taeng..” Yuri menggenggam tangan Tae Yeon..
“Eh.. unnie??” guman Tae yeon pelan..
“Yuri unnie??” tanya Tae Yeon perlahan.. Yuri tersenyum dan mencium tangan adikknya..
Setelah Tae yeon sudah tersadar dari masa kritisnya, dia masih terdiam di kamarnya.. hingga seorang wanita masuk… Tae Yeon sudah menyadari siapa orang itu..
“Apa kau membenciku??” tanya wanita itu..
Tae yeon menatap kearah orang yang berbicara kepadanya..
“Ibu bicara apa?” tanyanya pelan dengan nada heran..
“Apa kau membenciku? Karena mengaturmu dalam hidupmu sendiri??”
Tae yeon memiringkan kepalanya..
“Ibu??”
“Maaf nak…”Sesal Ibu Tae Yeon mendekat dan memeluk badan anaknya..
“Aku sudah memaafkan ibu sebelum ibu menyadari semua itu..” Ujar tae yeon membalas pelukan ibunya.. dari kaca pintu terlihat seseorang tersenyum bahagia melihat keakraban dua orang yang sudah sangat lama tak pernah terjalin..
“Maaf permisi..” seorang suster masuk “saya ingin memeriksa keadaan pasien..”
Suster mengecek infuse dan semua alat yang bekerja.. temperature dan tekanan darah tae yeon..
“semua sudah stabil..”
Ibu Tae Yeon tersenyum.. “aku izin menemui klien??” pamit ibunya..
Tae Yeon hanya memberi anggukan kecil..
“Appa aku sangat senang melihat ibu seperti ini..” Ujar Tae yeon tersenyum melihat kearah punggung ibunya yang berjalan keluar ruangan..
Saat diluar Nyonya Kwon berpapasan dengan seorang..
“Nona..” panggil ibu tae yeon pelan..
“Ne..” bungkuknya..
“Tae Yeon sudah sadar, kau tak ingin menemuinya?”
Tiffany terdiam.. “iya..” bungkuk Tiffany.. Ibu Tae Yeon memberi anggukan kecil lalu beranjak pergi..
“aku sangat ingin menemuinya, tapi aku takut…” Saat Tiffany melangkah menuju ruangan Tae Yeon, beberapa orang yang sangat di kenal Tiffany berjalan bersama.. mereka adalah teman tae yeon di namyeong Min..
“Nae Jin!!” Tae yeon menengok kearah suara..
“Apa kau baik – baik saja? Apa kepalamu sakit? apa kau masih mengingatku???” tanya Amber bertubi
“Amber kau bertanya apa mengintrogasi??” tegur  Ga In
Tae Yeon tersenyum…
“tentu saja.. apa aku terlihat begitu buruk??” tanya tae yeon
“sepertinya…” angguk dara yang duduk di sofa..
“paman tidak bisa ikut, dia hanya menitip salam..” jelas Ga In
“meski dalam keadaan seperti mummi begini kau tetap cantik ya nae..” goda YooBin..
“eaaa.. kumat..eaa.. aku tak ingin turun tangan..” ledek dara menggoda ga in yang memasang muka kusut..
“Taeng..” Yuri masuk bersama kekasihnya..
“Jessica unnie..” histeris amber… “eemm..” lanjutnya melihat kearah belakang.. berharap seseorang ada..
“Krystal??” tanya Jessica
“Dia tidak ikut, kasihan deeh looooww… :P” ejek Dara menjulurkan lidahnya..
Amber memasang muka kusut..
“Aduh maaf nae jin, kami hanya bisa sebentar, kasihan paman membuka toko hanya bersama 3 karyawan..” pamit Ga In setelah menyerahkan beberapa parcel..
Tae Yeon mengangguk…
Beberapa saat ruangan yang tadinya penuh kini hanya ada Tae Yeon, Yuri, dan Jessica..
Jessica memberi kode untuk ijin keluar sebentar.. Yuri hanya membalas dengan anggukan..
“Apa perasaanmu sudah baikan??”
“Aiihh!! Daritadi yang ditanya itu melulu! Aku bukan anak kecil! Tadi ibu, barusan teman – teman, sekarang kau! Nanti??”
Yuri tertawa melihat Tae Yeon sudah kembali..
“Kak..” panggil Tae yeon pelan..
“Hemm..??”
“kemarin aku bermimpi bertemu ayah..”
Yuri terdiaam.. sangat pahit mengatakannya.. tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah terjadi..
“Taeng… Appa… Appa sudah..sudah ke surga..”
Tae Yeon menatap terkejut… “MWO???”
Yuri segera menghampiri adiknya..
“Appa??” tangisnya..
“Taeng..” Peluk Yuri..
“Aku bermimpi Appa berkata padaku, hidup bahagia dan salam untuk umma dan unnie..” tangisnya dalam pelukan Yuri.. Yuri mengusap punggung adiknya..
“jangan menangis, Appa pasti sedih melihatmu menangis..” usap Yuri
Tae Yeon melepas pelukan kakakknya..
“wae??” tanya Yuri
“Appa pasti mentertawaiku yang menangis..”
Yuri tersenyum.. lalu mengelus kepala adiknya pelan..
“jika nanti kau sudah sembuh aku akan mengajakmu ke tempat appa.”
“aku bisa sendiri..” jelas tae yeon..
“heeh.. kau masih saja sama.. tapi ada sedikit yang berbeda.. rasanya hangat sekali..”
Tae yeon memiringkan kepalanya..
“saat kau menangis di pelukaku, aku jadi ingat 10 tahun yang lalu, taeng yang masih cengeng karena di ganggu teman – teman smpnya..” ledek yuri membuat tae yeon cemberut..
“lucu? Huh? Lucu..?”
“hahahahahahhahahaaa..” tawa Yuri menatap wajah tae yeon
“Kau ingin mendengar kabar gembira?” tanya Yuri
“Apa??”
“Aku bertunangan dengan Jessica..”
Tae Yeon tersenyum.. “sungguh?? Sekarang dimana Jessica??”
“entahlah.. mungkin ke toilet..” Jawab Yuri pelan..
“mencariku??” tanya Jessica masuk kedalam ruangan..
Yuri dan Tae Yeon menengok ke arah suara berasal.. Yuri kaget melihat seseorang bersama Jessica..
“Tiffany???” heran Yuri…bangun dari kursi.. Tae Yeon hanya menatap datar.. kemudian dia menatap kearah Tiffany..
Tiffany tak sanggup menahan air mata saat melihat tatapan lembut dari mata tae yeon.. tatapan ini..
“Tiffany kau datang?” tanya Yuri
Tae yeon menatap Tiffany datar, berbeda dengan Tiffany yang menatapnya dengan air mata yang tertahan..
“Dia siapa??” tanya tae yeon datar
Membuat isi ruangan menatap kaget kearah Tae yeon..
Yuri menatap Tiffany kemudian Jessica…
“Taeng??” kaget Yuri
Segera dia berlari ke ruang dokter… meninggalkan Tiffany yang berdiri mematung..dan Jessica yang menatap kaget kearah Tae Yeon..
“Jessica, dia temanmu? Kenapa aku baru melihatnya?” tanya Tae Yeon..





-TBC-




terima kasih…….. please don’t kill me… :)

No comments:

Post a Comment