Hallooo… reader……
kemarin aku ngomong yah jika mau buan xxx buat SooSun??
selamat menikmati ending dari kisah Tae Ny.. :
PART 19 [END]
“Dia siapa??” tanya tae yeon datar
Membuat isi ruangan menatap kaget kearah Tae yeon..
Yuri menatap Tiffany kemudian Jessica…
“Taeng??” kaget Yuri
Segera dia berlari ke ruang dokter… meninggalkan Tiffany yang berdiri mematung..dan Jessica yang menatap kaget kearah Tae Yeon..
“Jessica, dia temanmu? Kenapa aku baru melihatnya?” tanya Tae Yeon..
“kau tak mengenalnya tae??”
Tae Yeon menggeleng.. Tiffany tak mampu bertahan lama.. dia berbalik dan melangkah menuju pintu..
Tae Yeon memandang heran.. “gadis yang aneh..” datarnya..
Tiffany bersandar di dinding..
“menjadi hukumanku.. dia lupa diriku.. sepertinya ini hal yang pantas aku dapatkan..”
–
“Iya sepertinya adik anda mengalami sedikit gangguan ingatan..”
“tapi mengapa hanya satu orang yang tak diingatnya??” heran Yuri
“bahkan dia masih mengingat orang – orang belum lama dikenalnya.. sedangkan Tiffany, dia adalah kekasihnya.. dan cukup lama mereka bersama dan saling kenal.”
“Itu tak menutup kemungkinan nona, bisa saja teman ada adalah orang terakhir yang ada di memorinya saat dia kecelakaan, jadi ada gangguan dimana hanya dia yang terhapus dari ingatannyaa..” jelas sang dokter membuat Yuri menatap tragis..
Yuri keluar dari ruangan dokter kembali keruangan adiknya..
–
“Mungkin aku pantas di lupakan Jessi.. aku jahat kepadanya, aku pantas dilupakannya..” tangis Tiffany
Jessica memeluk erat sahabatnya membiarkan sahabatnya menangis si pelukannya..
“Aku tidak apa – apa, aku ingin pulang..” ujar Tiffany..
“Fany…”
“Iya Jessi.. ini hukuman yang pantas aku dapatkan.. aku memang pantas di lupakan..” Tiffany berjalan, langkahnya terhenti di hadapan Yuri..
“Tiffany..”
Tiffany masih tertunduk menutupi wajah menangisnya..
“Hanya kau yang tak diingatnya, itu karena saat dia kehilangan memorinya.. kau lah satu – satunya yang dia pikirkan..” jelas yuri..
“Aku jahat padanya…”
“Aku tahu yang sebenarnya!! kau terpaksa meninggalkannya karena perintah ibuku! ya kan?! Kau tak jahat Tiffany..” Yuri menarik Tiffany kepelukannya..
Tiffany masih terdiam di pelukan Yuri.. Jessica menghampiri mereka lalu memeluk Tiffany dari belakang..
“Aku baik saja.. aku hanya ingin pulang.. sebentar saja..”
Yuri dan Jessica melepas pelukannya.. dan membiarkan Tiffany pergi..
“aku antar..”
“aku hanya ingin sendiri..” tolaknya terus berjalan..
Yuri dan Jessica berpegangan tangan menatap sedih kearah temannya itu..
“Siapa gadis itu?? Apa aku mengenalnya? aku tak pernah ingat jika aku punya teman sepertinya.” Tae yeon masih mencoba mengingat Tiffany.. dan Yuri pun masuk ke ruangannya membuatnya sedikit terkejut..
“Apa kau benar2 melupakan Tiffany??”
“Tiffany?? Nugu?? Owwh.. Gadis aneh tadi??” tanya Tae yeon
“Taeenng… aku tanyaa sekali lagi, apa kau benar2 lupa dirinya?? Atau kau berpura – pura lupa dengannya??”
“aku tidak lupa.. aku cuma merasa tak pernah mengenalnya..” jawab TaeYeon..
“Kau dan dia.. dia adalah orang terpentingmu Taeng..”
“Ehh?? Dia?? Jinjja?? Maksudmu dia pacarku?? Gadis aneh tadi??” heran Taeyeon kemudian tertawa..
“kau bercanda kak??”
“Apa aku terlihat bercanda?!!” Baru kali ini seorang Yuri marah ke adikknya..
“Kenapa kau marah – marah kak?? Baru kali ini aku melihatmu marah..” heran taeyeon
“Apa kau benar2 tak mengingatnya????” tanya Yuri sekali lagi..
“Haaaaaaaaaahh!! Kau memang kakak tercerewet yang aku punya… memang aku terlihat bohong???”
Yuri terdiam… membuat TaeYeon menatap heran kearahnya..
Seminggu kemudian..
“kenapa semua orang yang datang kemari selalu membicarakan gadis bernama Tiffany itu?? Apa sih spesialnya?? Aku jadi risih begini…” Keluh Tae yeon
Greekk.. pintu tergeser…
Seorang gadis berdiri di dekat kasur Tae Yeon, Tae yeon yang menyadari kedatangan sosok itu menatap kearahnya..
“Apa kau benar2 tak mengingatku????” tanyanya..
“Aku bukannya tak mengingatmu, tapi apa pernah aku mengenalmu??” tanya Taeyeon
“Taeng.. itu adalah nama kecilmu dan kau sangat membenci nama itu jika aku yang memanggillmu, kau suka makan namyeong paman Min, kau sangat suka sama bunga ungu yang berada di kawasan rumah bibi.. selain itu kau sangat suka bermain cangkir putar, jika kau sudah menyukai seseorang kau rela tanganmu patah untuk menghajar orang yang mengganggu orang tersayangmu..”
“Siapa kau??” tanya TaeYeon sedikit kaget..
“ingatlah aku TaeYeon..”
“Ya!! Bagaimana bisa aku mengingatmu! Sedangkan aku tak pernah merasa mengenalmu! Kau ini gadis yang mengerikan, jangan sok kenal deh sama aku!” Marah tae Yeon..
“Yuri bilang kau adalah wanita spesialku, bagaimana bisa aku menyukai gadis aneh sepertimu..” herannya…
“Memang aku pantas kau lupakan, tapi aku tak terima sebelum kau ingat aku dan aku menebus kesalahanku dimasa lalu..”
“Haaahh……” desah TaeYeon.. “Nonaaa.. ppany.. aku tak pernah merasa mengenalmu, jika seandainya kau punya salah padaku.. aku memaafkanmu, jangan datang lagi deh.. aku jadi risih.. orang2 akan beranggapan kau sebagai gadis penggoda, jelas2 aku tak menyukaimu yang selalu datang ke sini.. tapi kau terus2 memaksaku untuk mengingatmu.. mengerikan bukan? Itu demi kebaikanmu juga, sebaiknya kau tak usah datang lagi kesini.. oke..” jelas Tae yeon
“Bagaimana mungkin aku tak datang sementara hatiku terus berontak ingin melihatmu…? Bagaimana?!” tanya Tiffany dengan nada tinggi dan meneteskan air matanya..
Tae Yeon terdiam menatapnya..
Tiffany melangkah keluar, Tae Yeon masih tak mampu mengingatnya..
“dasar gadis aneh..” ejek Tae Yeon mengambil buah di meja dan mengupasnya..
“Ahh!!” serunya saat pisau buah itu mengenai jarinya..
Dia menatap darah yang keluar dari lukanya.. beberapa saat dia merasa kepalanya sakit sekali… sedikit bayangan terputar tak jelas di kepalanya.. “AHH!!!!!” erangnya mencengkrang kepalanya yang terperban..
“Kau berkelahi?? Tanganmu kenapa??”
“Tidak..aku tidak berkelahi…”
“sebentar, aku ambil p3k.. jangan kemana2..”
“kau mau apa??”
“aku mau obati lukamu…”
Dia terengah menahan rasa sakitnya sampai rasa sakit itu perlahan hilang..
“ingatan apa tadi barusan??” Guman TaeYeon masih menahan rasa nyeri di kepalanya..
Tiffany berjalan sedikit lesu, dia mengingat bagaimana tae yeon yang tak mengenalnya sama sekali..
“aku tak bisa seperti ini.. kau harus mengingatku.. Kwon Tae Yeon.”
Tiffany segera menuju rumahnya..
“baru pulang??” tanya ibu Tiffany yang keheranan melihat Tiffany segera ke dapur..
“mau ngapain?”
Tiffany sibuk mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari..
“mau buat mie? Kau lapar??” tanyanya
Tiffany menatap kearah ummanya.. “aku hanya ingin membuatkan sesuatu..”
Mama Tiffany menatap heran kearah anaknya..
“TADA!!!” ujar Tiffany setelah selesai memasak mienya
“Ini kenapa rumput lautnya kau buat seperti rambut? Lucu menyerupai wajah seseorang..”
“Emm…” ujarnya dan segera berkemas..
“mau pergi lagi?”
“Aku mau menyerahkan ini.. doakan ya ma.. fighting!!”
“gadis itu..” geleng mamanya
Sampailah Tiffany di rumah sakit Tae Yeon..
Perlahan dia membuka pintu kamar taeyeon..
“dia tertidur..”
Tiffany mendekat dan meletakkan mie tersebut..
“semoga kau menyukainya, makananku gak mematikan lidah seperti dahulu kok..” ujar tiffany ber eyesmile
Beberapa menit kemudian..
“Hooaamm…berdiam seperti ini membuatku bosan.. kapan aku akan keluar dari kamar ini?”
“Eh apa tuh??” tanya taeyeon melihat bungkusan berwarna pink.. Dia meraihnya..
“wanginya seperti mie..” dia mengendus bungkusan itu, dia membuka perlahan dan mendapati kotak bekal.. “ini beneran mie.. eh kenapa bentuknya seperti wajah manusia?” herannya setelah membuka kotak makanan itu..
“kwon tae yeon..” ejanya “kreatif sekali yang membuat ini..” dia mengambil sumpit dan mencobanya.. satu suapan membuat dia langsung terdiam..
“ini… enak sekali.. tapi bukan namyeong min.. siapa yang membuatkan ini?”
Begitu juga dihari berikutnya dan berikutnya lagi.. Tiffany sangat berharap tae yeon bisa mengingatnya.. jadi selama jam tidur tae yeon. Tiffany menyelusup dan memberikan mie buatan Tiffany..
“kau harus mengingatku Kwon Tae Yeon..” Ujar Tiffany lalu melangkah pergi..
“Kenapa aku harus mengingatmu Tiffany-ssi?”
Tiffany tersentak mendengar suara tae yeon, perlahan dia berbalik..
“jadi selama ini kau yang membuatkan mie yang menyerupai wajahku itu?” tanyanya..
Taeyeon membuka selimutnya dan turun dari ranjang, dia mendekat kearah Tiffany..
“mengapa aku harus mengingatmu??” tanyanya mendekat..
Tiffany terdiam tertunduk..
“Tatap aku..” Tae Yeon meraih dagu Tiffany perlahan dia mendekatkan wajahnya, dan Tiffany bisa merasakan nafas tae yeon di wajahnya..
Tiffany memejamkan matanya merasakan kelembutan yang telah lama tak ia rasakan, perlahan air mata Tiffany mengalir membasahi pipinya.. Tangan Tiffany meraih pinggang tae yeon dan dia mulai bermain dengan tae yeon, Tae yeon kaget menerima ulah Tiffany.. awalnya dia hanya bermain – main namun ada perasaan berbeda di dadanya.. dia merasa ada perasaan rindu tersampaikan.. ciuman berdurasi 5 menit itu berakhir karena mereka membutuhkan nafas bebas..
Tae Yeon menatap Tiffany.. “siapa kau? Mengakulah siapa kau sebenarnya?!!” bentaknya
“sebut namaku dan ingat aku Taeng..” Tiffany melepas tangannya yang melingkar di pinggang tae yeon dan bergegas pergi karena sudah tak mampu menumpahkan air matanya..
Tae yeon bisa dengan jelas melihat air mata yang mengalir di pipi tiffany..
“Tiffany…siapa kau??” rata taeyeon menatap kosong seraya memegang dadanya
Sekaarang adalah hari Tae Yeon keluar dari rumah sakit..
Tae yeon terdiam, dia sudah berganti pakaian kasual dan bersiap pulang..
“kau sudah siap??” tanya Yuri
Tae yeon tetap menatap ranjangnya..
“ada yang tertinggal apa yang kau pikirkan?” tanya Yuri
“tidak.. tidak ada.. ayo pulang..” ujarnya berjalan mendahullui Yuri
“hari ini dia tak ada..”
“Kak, aku mau bertanya sesuatu..”
“tentang??”
“siapa gadis yang bernama Tiffany itu??”
“kau sungguh tak mengingatnya?” tanya Yuri memberikan tasnya pada pengawal
Tae yeon terdiam..
“Jika kau melihatnya apa yang kau rasakan??”
“perasaan itu..” Tae yeon memegang dadanya.. “hatiku terasa penuh..”
“apa kau tak merasa aneh? Kau memiliki perasaan aneh itu pada orang yang tak kau kenal??”
Tae yeon mengangguk pelan..
“dia gadis hebat yang selalu mendampingimu disaat kau rapuh.. ketahuilah, kalian berpisah disaat yang salah..” ujar Yuri, tae yeon menatap kakaknya..
“jadi aku dan dia.. sudah putus? Wae??”
“seperti itulah.. aku tak bisa pungkiri kau masih mencintainya..”
“aku tak merasakannya..” sangkal taeyeon
“mulutmu bisa berbohong taeng, tapi hati dan matamu tidak.. meski otakmu tak mampu mengingatnya tapi hatimu masih mengingatnya taeng..” nasehat Yuri
“hah.. ganti topic kak..”
Yuri hanya tertawa seraya masuk ke dalam mobil.. dan sopir mereka membawa mereka pulang, selama perjalanan tae yeon hanya terdiam melihat kearah jendela.. dia mengingat saat dia mencium Tiffany..
“Perasaan itu??” gumannya meraba jantungnya..
“Aku merasa kosong saat dia tak ada, hanya menatap matanya aku merasa dia ada di dalam hatiku, siapa dia? Kenapa kami putus? Apa dia berbuat salah kepadaku? Hingga dia pernah bilang ingin menebus maaf?”
Tae Yeon memejamkan matanya..
“Tiffany… Tiffany…Tiffany..Tiffany.. aku terus menyebut namamu tapi susah sekali mengingatmu..”
Semenjak berciuman dengan Tiffany di rumah sakit itu perasaan Tae yeon jadi berkecamuk..
Dia berusaha untuk mengingat Tiffany namun tetap saja nihil..
“kau sudah sampai??” tanya seseorang..
“Aaa.. Umma..” ujar Tae yeon melihat ibunya sedang berdiri di belakangnya
“apa yang kau rasakan??”
“esok aku sudah bisa kekantor..”
Ibu Tae yeon terdiam.. lalu berjalan mendekat..
“tae.. mianhae..”
Tae yeon menatap ibunya..
“mianhae, ibu seperti monster, tak pernah mengerti keadaan keluarga sendiri, saat kau kecelakaan dan koma, dan kemudian aku mendengar ayahmu meninggal itu semua membuat aku sadar, jika kehilangan kalian orang yang aku sayangi itu sangat menyakitkan.. aku tak pernah membayangkan bagaimana jika aku menjadi kau.. aku justru membuatmu berpisah dengan orang yang kau cintai..”
“maksud umma?”
“maaf nak, aku tak menyangka jika kau tak mengingat gadis itu, dokter menjelaskan jika kau melupakannya karena dia orang yang terus ada di pikiranmu saat kau kecelakaan dan merengut ingatanmu tentangnya..”
Tae yeon kaget dan menatap Ummanya yang sedang menangis di depannya..
“maksud Umma.. Tiffany??”
“maaf nak.. maafkan umma..” ujar ibu Tae yeon memeluk erat tae yeon, tae yeon hanya memandang lurus dengan air mata yang perlahan menetes..
“jadi umma membuatku dan dia berpisah??”
Ibu Tae yeon menangis.. “mianhae tae yeon..”
Tae yeon terpaku dalam pelukan ibunya.. “jadi….”
–
Pagi yang cerah..
Tae yeon menuju kekediaman bibinya, bibinya sangat senang saat tae yeon datang dan kembali sehat..
“kau ingin berjalan2 sore??” tanya sang bibi melihat taeyeon memakai training..
“hanya di taman sana.. sebentar..”
Tae yeon berhenti di bundaran air mancur yang terdapat menara jam..
Dia memejamkan matanya..
“Taeng!!”
Tae yeon membuka matanya dan melihat seseorang sedang melambai dari kejauhan kearahnya.. namun sosok itu memudar..
“ya kau! Kwon tae yeon! Aku sangat..sangat..sangat.. rindu kepadamu dan aku sangat..sangat..sayang kepadamu..!!” sosok itu kembali muncul.. sosok yang tak jelas wajahnya.. tapi dia bisa menyadari itu adalah suara Tiffany..
“siapa orang itu! Kenapa aku tak bisa mengingatnya?” Tae yeon terduduk di kursi kayu.. dia memegang kepalanya..
“sedari tadi aku melihatmu..” ujar seseorang lalu duduk disamping tae yeon..
“apa kau kehilangan ingatanmu dan kau ingin tahu siapa dia orang yang kau lupa? Orang yang membuat hatimu terasa penuh jika melihatnya??”
Tae yeon menoleh kearah orang yang sudah duduk disampingnya..
“bayangkan saja sesuatu yang membuatmu akan kehilangannya.. saat dia tak ada apa yang kau rasa.. semua itu kau tak perlu ingatanmu untuk mengingatnya, tapi hatimu padanya, perasaanmu terhadapnya.. kau tak perlu bersusah payah mengingatnya.. jika kau merasakannya.. lakukan sesuai kata hatimu.. yang membuatmu ingin selalu bersamanya..”
Tae yeon tertegun mendengar ucapan orang itu.. dia tertunduk dan mencengkram kepalanya.. menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangannya..
“kau dingin dan sulit terbuka, janganlah terus menjadi lemari besi nona..” ujar orang itu..
Tae yeon tersentak.. “lemari besi..”
Saat dia menoleh lagi orang itu sudah tidak ada,. “Appa??” guman Tae yeon.. sedikit tak percaya..
–
“Kau tak ingin menemuinya??” tanya Jessica “dia sudah kembali dari rumah sakit..”
“aku tak mampu Jessie.. saat melihatnya aku selalu menangis.. aku sudah tak sanggup berkata apa – apa lagi..” ujar Tiffany..
“fany-ah..”
“aku sudah menyakitinya, aku pantas dilupakan olehnya..”
“kau bukan tiffany yang aku kenal, Tiffany yang gigih dan selalu bersemangat untuk mendapatkan apa yang ingin dia dapat! Semangat tiffany.. kalian tidak bisa terpisah seperti ini..”
Tiffany menghela nafas panjang..
“sudahlah.. biarkan waktu yang menjawab..”
“fany!”
“lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?! Huh!!” marah Tiffany
“lakukan apa yang bisa kau lakukan dan kau jangan menyerah seperti ini Hwang! apa kau aka terus seperti ini?!”
“sudahlah Jessi, kau pulanglah, aku mengantuk.. sms yuri agar menjemputmu..”
“oke..oke.. baik – baiklah.. aku pulang..” pamit Jessica kemudian keluar dari kamar Tiffany..
“maaf besok aku tak bisa mengantar kalian ke bandara..” jelas Tiffany menelungkupkan selimutnya menutupi semua badannya..
“Maaf Jessica.. aku jadi seperti ini..” ujarnya memejamkan matanya
Jessica menatap kalut.. “it’s ok ^^”
“aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu ingat kepadaku..” tangis Tiffany
Esoknya..
Tiffany menatap bayanganya yang terpantul di cermin meja riasnya..
“akan aku lakukan untuk terakhir kalinya..” ujarnya
“selamat datang kembali nona!!” bungkuk karyawannya..
Tae yeon hanya memberi senyum damai..
“dia tetap sama.” Bisik salah satu karyawannya
Tae yeon duduk di ruangannya..
“presedir ada yang ingin bertemu dengan anda..” ucap sekretarisnya..
“siapa??”
“dari spectrum corp.”
Taeyeon menaikkan sebelah alisnya.. “dia ingin menemuiku atau kakakku?” tanya taeyeon karena setahunya anak dari pemilik perusahaan itu adalah teman dekat Yuri, dan juga salah satu sunbaenya saat SMA..
“dia bilang ingin bertemu dengan anda.. dia bersama rekannya..”
“baiklah suruh dia masuk..”
Orang yang dimaksudpun memasukki ruangan..
“oregamani taen yeon..”
“Ya.. ada apa yoong??”
“ya!! Kau selalu memanggilku seperti itu.. bagaimanapun juga aku sunbaemu dulu..”
Tae yeon tertawa kecil.. “ada apa??”
“aku kemari bukan urusan besar, sesungguhnya aku ingin menemui Yuri, tapi ternyata kau yang duduk disini..”
“sudah aku duga..” ujar taeyeon.. “ada apa?”
“aku hanya ingin memberikan ini..” Yoona menyerahkan sebuah kertas yang cukup tebal..
“Wedding invititation.. kau akan menikah??” kaget taeyeon..
“ne..”
“Seo JooHyun.. siapa dia?”
“awalnya dia sekretarisku, karena sepertinya dia cocok dan juga aku menyukainya dia, jadi kujadikan sekretaris rumah tanggaku..” jelas yoona
“annyeong..” bungkuk seohyun yang sedari tadi duduk di sofa..
“salam kenal, aku Kwon tae yeon..”
“saya sudah mengenal anda nona..” ujar seohyun..
“aku ini lebih muda dari calon seobangmu, jadi biasa saja..”
“yasudah aku titip untuk Yuri aku dengar dia juga sudah bertunangan dengan Jessica, salam saja kapan nyusul..”
“oke.. sekarang mereka berdua sudah kembali keperancis, Jessica yang sudah menjadi penyanyi itupun juga ada diperancis, sepertinya mereka akan menikah disana..” jelas taeyeon..
“jauh sekali mereka menikah.. oh iyaa.. waktunya makan siang, mau makan siang bersama kami??” ajak Yoona.. “aku harap kau mau..”
Tae yeon menimang2 kepalanya.. “baiklah.. traktir??”
“aah… oke..”
Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan tae yeon..
“aku makan siang..” ujar taeyeon kepada sekretarisnya..
“baik..”bungkuk sekretarisnya
Mereka bertiga makan siang di kafe yang tak jauh dari kantor tae yeon..
“kalian berdua disini dulu ya.. aku mau ketoilet..” ujar yoona..
“tae! Jangan kau sentuh calon istriku!!”
“kau melarangku, aku malah bisa melakukannya!”
“macam2 awas kau!”
SeoHyun hanya tersipu..
“sayang aku tak akan lama.. tenang taeyeon sudah jinak..” ejek yoona
“baiklah menunggu suamimu, sebaiknya kita meminta menu..”
“Kau mirip sekali dengan Yuri unnie??”
“aah.. oh ya? kau orang pertama yang bilang seperti itu.. kau mau pesan apa?”
“aku menunggu Yoona..”
“baiklah enaknya kita mebaca – baca dulu, jika menunggu yoona yang ada menu di tempat makan ini akan habis olehnya..”ejek tae yeon dan mereka tertawa bersama..
“tunggu, ada sesuatu di dekat hidungmu, tolong pejamkan matamu, jangan berkedip jika jatuh bisa masuk kematamu..” ujar seohyun..
“bulu mata?” tanya tae yeon..
“sepertinya..” ujar seohyun mendekat dan mengambil bulu mata itu, justru dari jauh terlihat seohyun seperti mencium tae yeon..
“gomawoo..” ujar tae yeon tersenyum..
“aku memang lebih pantas dilupakan, sepertinya gadis itu lebih pantas. Baiklah, aku benar – benar menyerah padamu taeng..” Tiffany melangkah pelan dari tempat itu, dia melihat taeyeon sedang bercanda dengan wanita baru..
“kau lama sekali yoong!”
“aah.. ehehe..”
Mereka memesan dan mengobrol..
“tadi aku sekilas melihat gadis amerika bereyesmile itu.. apa kau masih bersamanya??”
“nugu??”
“Tiffany, teman baru kau dan Jessica saat sma dulu..”
Tae yeon menghentikan suapannya.. “aku kehilangan ingatan tentangnya..”
“jadi berita kecelakaanmu itu benar? Kau amnesia? Tapi kau masih mengingatku??”
“tentu saja, aku mengenalmu cukup lama sampai aku bosan..”
“eeeuuww! Bocah ini..” keluh yoona
“unnie kau amnesia??” tanya seohyun..
“dia ini sangat terkenal dimedia masa, dia menghilang pun masuk Koran, kemarin dia menjadi trend topic saat kecelakaan.. kau hebat taeng!”
“seperti itu kau bilang hebat..”
“tapi kenapa hanya dia yang tak kau ingat??”
Tae Yeon terdiam.. “apa kau yakin dengan yang kau lihat tadi?”
“hanya sekilas seh.. tapi aku yakin..” sungut yoona
“yakin??” pasti tae yeon..
“10%.. hehehe…” lanjutnya..
“eeaa gubrakk..” tae yeon memutar bola matanya.
–
“nona ada kiriman paket untuk anda..”
Tae yeon menerima kotak..
“kami sudah memeriksanya itu bukan bomb..”
Tae yeon tersenyum dan masuk kekamar membuka paket itu..
Apakabar taeyeon??
Ingin sekali aku mengucapkannya secara langsung..
Tapi aku tak ingin terlihat bodoh karena terus saja menggodamu yang tak mengenalku..
Mungkin kau tak akan perduli bahkan membaca surat ini..
Maaf saat kau mengenalku aku hanya menjadi wanita tak sempurna untukmu..
Aku menuntutmu untuk selalu menurutiku..
Bahkan saat itu mungkin aku sangat membuatmu sakit dan aku pantas menerima ini..
Ini hukuman bagiku taeng..
Aku senang melihatmu tersenyum, aku senang meski bukan aku yang akan disampingmu..
Mungkin kau bertanya – tanya siapa aku.
Aku yang selama ini mengenalmu sebagai seorang taeng..
Seorang taeng yang selalu keras kepala, tapi aku sangat menyayanginya..
Seorang taeng yang terkadang terlihat lembut, meski lebih sering menyebalkan..
Kau yang sangat suka dengan cangkir putar, mie namyeong dan ice cream vanilla..
Kau yang selalu terlihat tegar dan melindungiku meski terkadang kau lah yang membutuhkan perlindunganku..
Aku hanya ingin meminta maaf..
Jika suatu saat nanti kau mengingat kesalahanku..
Aku hanya mampu berkata maaf, meski kata maaf masih tak pantas menebusnya..
Maaf..Karena pernah menyakitimu..
Baik – baiklah taeng..
^^
“apa ini Tiffany? Tuhan! Siapa gadis ini? Kenapa kau buat aku melupakannya?”
“apa dia akan pergi? Perasaan ini, kenapa tiba – tiba.. terasa….. sakit..” Tae yeon menangis meski tak sadar mengapa dia menangis..
–
“inilah jalanku, mungkin dunia baruku bisa menghapus tentangnya..” ujar Tiffany menatap perbukitan yang gelap..
Dia sedang melakukan bepergian dengan kereta..
“gadis kereta aneh..” ujarnya lalu tertawa kecil.. dia menarik nafas dan menghela pelan..
“setidaknya aku pergi setelah melihatnya tersenyum..”
Tiffany menatap kearah jendela..
“YA!! Sepertinya anda salah kursi nona!! Ini nomor kursiku!!”
Tiffany kaget dan menoleh kearah sumber suara.. dia tambah kaget mengetahui siapa pemilik suara itu..
Orang itu duduk di kursi di hadapan Tiffany.. orang itu tersenyum menatap Tiffany..
“no kursimu 24 dan aku 23, yang kau duduki no 23 bukan? Kau mengambil kursiku..” ujar orang itu menunjukkan karcisnya..
Tiffany masih tertegun menatap seseorang dihadapannya..
“hei!! Kenapa melamun! Aku ingin kau pindah!” tegas orang itu..
“Taeng…” datar Tiffany..
“kau mengenaliku? Padahal aku sudah menyamarkan suaraku..” ujarnya lalu membuka topinya..
“kenapa kau pergi? Disaat aku perlahan mengingatmu, kau ingin meninggalkanku? lagi?” tanyanya..
Tiffany menatap tae yeon dengan mata berkaca – kaca.. tiffany mengusap air matanya yang menetes..
“Mianhae..” ujar Tiffany sesegukan.,
Tae yeon mendekat dan memeluk gadis itu..
“aku tak ingin kau pergi, maaf meski aku belum sepenuhnya mengingatmu tapi masih ada yang aku ingat..”
“apa??” tanya tiffany dengan suara parau..
“dasar gadis kereta aneh..”
Tiffany tertawa dalam pelukan taeyeon..
“apa kau akan pergi??”
“aku tak akan pergi..”
Tae yeon mempererat pelukannya..
“aku biarkan ingatan itu datang perlahan, aku hanya melakukannya sesuai kata hatiku, saat bersamamu aku merasa hatiku di penuhi rasa bahagia, dan aku merasa kosong tanpamu.. jadi jangan pergi tetaplah disampingku..” jelas tae yeon.. kemudian menatap wajah Tiffany..
“kenapa menangis?”
“aku bahagia.. bagaimana bisa aku tak sebahagia ini, ini air mata bahagia..”
Mereka saling tatap..
“tae..”
“ne??”
Tiffany menatap wajah tae yeon..
“kau tahu jika aku pernah membuatmu sangat terluka??”
“aku tidak perduli, perasaanku mengatakan kau sangat penting di hatiku, aku tahu kau tak sepenuhnya ingin menyakitiku kan? Itulah cin….”
Tiffany menarik kerah taeyeon lalu melibas(?) bibir taeyeon penuh nafsu..
“eeemmbbhh..” kaget taeyeon yang belum sepenuhnya menyelesaikan ucapannya..
Tiffany mengalungkan tangannya di leher tae yeon dan duduk di pangkuannya, tae yeon tersandar di kursi kereta..
Tae yeon mengecup bibir atas Tiffany dan bergantian mengulumnya..
“eeeummhh..” desah tiffany menikmati perlayanan tae yeon..
Mereka berciuman lama sekali, mungkin karena sudah lama sekali mereka tidak melakukannya..
Untung saja kereta itu sepi karena perjalanan malam..
Si byun beraksi dan si agresif meladeni…
Siapa gadis yang aku miliki sekarang ini..
Dia yang membuatku selalu bahagia..
Maybe right I love Her??
YES!! I LOVE HER..
-END-
)
Kemarin ada yang tanya kisah YoonHyun..
Hmmmmmmmmmmmmmm…
Selamat Desember ceriaa!!!! selamat membaca!!










No comments:
Post a Comment